
Pada tanggal 22 februari 1857di london, lahirlah seorang anak laki laki yang bernama Robert Stephenson Smyth Baden-powel. Robert Baden-Powel tumbuh dalam keluarga besar. Dia memiliki empat orang kakak yaitu Warington, George, Augustus, dan Francis, serta memiliki dua adik yaitu Agnes dan yang salah satunya masih bayi. Dia juga memiliki tiga orang saudara lainnya tetapi malangnya sudah meninggal ketika masih bayi.
Ayah Robert, adalah seorang profesor dan pendeta terkenal, bernama Profesor Baden-Powel, dan ibu Baden-Powell adalah seorang ibu rumah tangga bernama Henrietta.
Pada tahun 1860, ayah Robert meninggal dunia disaat Robert hendak berumur 3 tahun. Hal itu adalah peristiwa yang berat bagi Robert dan Keluarganya. Henrietta, Ibu dari Robert, berjuang keras untuk merawat tujuh orang anak anaknya yang masih kecil.
Tapi Henrietta tetap tabah, dia sebagai pengganti kepala keluarga mendidik putra putrinya dengan disiplin keras supaya mereka bisa hidup mandiri nantinya dan tidak bergantung pada siapapun. Di rumah, hari hari terus berganti, mereka menjalani hidup dengan berbagi tugas pekerjaan rumah dengan adil. Dan tidak lupa, setiap malam mereka selalu berkumpul bersama untuk belajar bersama.
The Copse adalah sebuah hutan kecil, tempat bermain Robert yang terletak disebelah sekolahnya yang bernama Cartherhouse. Disana ia sering bermain mencari jejak binatang yang dimungkinkan hidup dan ada di hutan itu. Robert dulunya adalah anak yang tidak mudah patuh dan nakal. Sering kali para guru mencari ia sampai ke hutan tersebut, tetapi selalu tak menemukan apalagi mendapatkannnya. Robert juga sering membayangkan gurunya tersebut sebagai Indian musuh (suku khas Amerika), maka dari itu Robert sering menghindari gurunya yang sering mengejarnya hingga ke hutan. Ia lebih suka berkeliaran daripada harus duduk mempelajari buku, yang membuat dia merasa mengantuk dan bosan.
Untuk masalah keuangan, kelurga Robert adalah keluarga yang sederhana, jadi Henrietta menyiapkan kotak uang dan catatan keperluan untuk keterangan uang yang telah digunakan, agar Henrietta lebih tau uangnya untuk apa saja. Kelurga tersebut memang mengajarkan kejujuran yang sangat kuat, bahkan disaat Robert masih kecil.
Robert sangat menyayangi saudara saudaranya. Dia sering membuat mainan dari perkakas bekas, juga membuat layang layang yang mereka terbangkan bersama. Lebih dari, itu ia adalah anak yang suka menyendiri, dan membaca buku. Dia juga mempunyai bakat melukis, pandai berakting, bernyanyi, membuat naskah dan melawak, serta dia mempunyai bakat khusus untuk ketrampilan menggambarnya yaitu bisa mengunakan kedua tangannya yang kualitas gambarannya sama seperti tangan sebelahnya. Dia memang ahli semua itu bahkan teman temannya kagum akan dia, tetapi tidak demikian dengan ibunya, ibunya menginginkan dia seperti ayahnya, atau profesi lain yang lebih terhormat.
Pada tahun 1870 Robert mendapatkan beasiswa dari sekolahnya, Charterhouse surrey. Dan ibunya berharap dia terus giat belajar, agar menjadi orang sukses yang profesinya terhormat. Tetapi Robert malah lebih banyak mengisi waktunya dengan bermain dan hal hal yang tidak menunjang nilai akdemiknya. Hal-hal di luar pelajaran sekolah, justru sangat mengairahkan masa masaremajanya. Hal itu dibuktikan dengan ikut sertanya Robert, menjadi tim menembak di sekolahnya pada umurnya yang ke 17 tahun.
Beberapa bulan kemudian dia mendapat surat dari kakaknya Warington yang sudah selesai mengikuti sekolah pendidikan kelautan dan mengajak saudara saudaranya berpetualang.
Perjalanan seminggu mengunakan kapal menuju laut lepas. Didalam kapal tersebutlah banyak hal yang dipelajari, khususnya pembagian tugas dan kerja sama.
Setelah Robert selesai menjelajah lautan ia harus belajar, karena ujian sekolahnya waktu itu akan segera dimulai. Tetapi Robert bernasib malang, keinginan ibunya untuk melanjutkan Robert sekolah di Universitas Oxford gagal mengetahui bahwa ia tidak lulus tes.
Dengan perasaan kecewa tersebutlah akhirnya ia mendaftarkan diri ke angkatan bersenjata. Sangat mengejutkan ia berhasil lolos dan meraih posisi lima besar dari 718 calon peserta.

Pada umur 19 tahun, Robert masuk pasukan infantri sebagai perwira kaveleri. Pada tanggal 30 oktober 1876 ia ditugaskan ke india. Ia menapaki karirnya selama 2 tahun lamanya. Setelah lama waktu yang Robert rasakan, ia pun merasa bosan terhadap pekerjaannya tersebut. Akhirnya ia pun mendaftar dan melibatkan diri masuk ke olahraga polo yang diikuti prajurit muda. dia sering menabung dari hasilnya berkuda tetapi pada akhirnya Ia harus meninggalkan hobinya tersebut dengan menjual kudanya dikarenakan Robert membutuhkan banyak uang pada saat itu.
Pada tahun 1878 ia naik pangkat menjadi letnan, di saat usiannya menginjak 21 tahun. Tapi setelah itu ia jatuh sakit cukup parah dan harus kembali ke Inggris. Dua tahun kemudian tepatnya 5 oktober 1880, ia kembali berlayar untuk bergabung dengan kesatuannya.
Beberapa waktu ia sering ditugaskan ke penjuru dunia dari India hingga Afrika.
Pada tahun 1884 terbitlah buku pertamanya yang berjudul “reconaissance and scouting”.
Pada tahun 1884 angkatan bersenjata inggris menugaskan ia ke afrika. Disana ia bertemu suku asli afrika yang bernama suku zulu. Mereka saling bertukar pengalaman akan hal yang berhubungan dengan perang dan kemiliteran. disanalah Robert banyak mendapat julukan baru, seperti ”m’hlalapanzi ” yang artinya orang bertiarap yang siap menembak, “kantakye” yang artinya pemakai topi besar, dan ” nama impe esa ” yang artinya serigala yang tak pernah tidur.
Ditahun 1897 ia membuat kepelatihan militer angkatan bersenjata Inggris semakin luwes. Dari situ lambang kepramukaan fleur de lys ditemukan.
Beberapa bulan kemudian ia kembali ke India. Ia diangkat menjadi komandan kesatuan dragon guards dan bertugas selama 2 tahun.
Robert kembali bertugas ke afrika pada tahun 1899. Disana mereka harus berperang dan terperangkap oleh pasukan boer (pendatang baru dari belanda) yang jumlah pasukannya 3 kali lebih banyak daripada pasukan yang dipimpinnya yang hanya berjumlah kurang dari 3000 orang. Sementara itu pasukan boer menyiapkan pasukan untuk pengepungan dan banyak pengeboman. Pasukan Inggris yang di pimpin Robert tertekan, namun Robert tak kehilangan akal. Dia mempunyai ide karena mereka terkurung dari kecaman pasukan boer yang terus saja menteror wilayah kekuasaan Inggris. Robert memperintahkan pasukannya untuk membuat tipuan cahaya dari senter setiap malam, dengan tujuan agar pasukan Inggris seolah olah mempunyai perlengkapan yang lebih canggih dari Pasukan Boer.
Tetapi hal itu tidak mengubah kondisi pasukan yang masih dipimpin oleh Robert. Karena semakin terpuruk, banyak orang yang putus asa. Tetapi Robert masih mempunyai akal. Robert pun mengadakan kontes hiburan setiap hari minggu untuk meningkatkan moral pasukannya. Tidak terasa, semakin banyak anak lahir di kota tersebut. Hal yang menarik adalah ketika terjadi pertempuran, banyak dari anak anak tersebut tidak takut akan peluru dan ledakan yang sedang meneror kota tersebut terus menerus. Dari masalah itulah Robert mempunyai ide, maka dibuatlah korps kadet mafeking, yang berisi anak anak yang terlatih dalam peperangan dan sigap membantu Tentara tentara di garis kedua. Robert pun sangat bangga atas hasil dari korps kadet tersebut.
Tapi kota tersebut semakin terpuruk karena persediaan makanan hampir habis dan banyak timbul terjangkitnya penyakit. Tapi robert tetap tabah, terus berkerja keras dan pantang putus asa. Diluar perkiraannya pasukan yang dipimpinnya dapat mengalahkan pasukan boer. Inggris pun bersukacita.
Nama Robert Baden Powel terkenal dimana mana karena kegigihannya memimpin pasukan ke arah kemenangan. Dan berakhir pada usia 43 tahun, ia dinaikan pangkatnya menjadi mayor jendral.
Beberapa hari setelah itu, Robert melihat banyak anak kecil menjadi gelandangan membuat geng yang tidak baik dan sering melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan oleh anak anak kecil. maka malam itu ia membaca buku berjudul “birch barck roll of the wood craft indians” karangan seton. Dan dari buku tersebutlah Robert terpacu untuk menerapkan isi dari buku tersebut.
Pada tahun 1907 ia diangkat menjadi inspektur jendral dan pangkatnya diangkat menjadi letnan jendral. Melangkah ke kemajuan ia mulai memfikirkan terapannya, maka ia mulai berkonsentrasi untuk proyek barunya yaitu ia mengadakan perkemahan sebagai percobaan. Akhir juli 1907, dua puluh dua orang remaja putra memulai pelayaran ke pulau brownsea di selatan Inggris raya. Banyak kegiatan yang dilakukan di pulau tersebut. Seperti tali temali, baris berbaris, sandi sandi, P3K, dan banyak lagi.

Dari perkemahan itu ia merangkumnya menjadi sebuah rangkuman yang ia pidatokan ke tiga puluh kota, dan disela sela ceramahnya di berbagai kota, ia berhasil menyelesaikan bagian pertama dari bukunya yang berjudul ”scouting for boys” dan bertepatan pada hari itulah, pada 15 januari 1908, diciptakan gerakan kepanduan pramuka. Kegiatan kepanduan terus berkembang pesat dimana mana. Tetapi seiring semakin majunya teknologi kegiatan ini hampir tidak asli seperti mula awalnya. Yang intinya bertujuan untuk memandirikan anak anak, tetapi malah sebaliknya. Anak anak pada waktu itu banyak yang manja dan tidak mau berfikir tentang kepanduan. Tapi Robert tak kenal menyerah, dia memfikirkan menambahkan berbagai kegiatan menarik bagi para pramuka. Pramuka sungguh mengubah dunia, ia pun terkesan dengan kemajuan yang sangat pesat.
Tonggak awal kegiatan pramuka terjadi pada tanggal 4 september 1909 di Crystal palace, london. Sebelas ribu pramuka hadir di bawah siraman hujan. Suasana hening mengiringi pembacaan telegram dari raja Edward VII oleh Robert yang berisi ucapan selamat bagi para pramuka. Lambat laun kegiatan yang dulunya dititik beratkan untuk laki laki menjadi berubah. Perempuan pun ikut serta dalam kegiatan ini. hal itulah yang sebelumnya belum difikirkannya. Maka beberapa hari kemudian, dibuatlah guides association yang dipimpin Agnes, adik Robert. Setelah acara di Crystal palace selesai raja edward menganugrahi gelar “sir” kepada Baden Powel.
Sekian lama Robert belum menikah akhirnya pada tanggal 30 oktober 1912 Ia menikah dengan Olave ST. Clair Soames.

Berkemah di Aljazair menjadi pilihan mereka untuk berbulan madu. Ternyata Robert adalah seorang pramuka yang baik. Seorang pejalan kaki yang menyenangkan, tak pernah kehilangan arah, ia memanjakan istrinya Olave seperti seorang ibu. Ketika kembali ke rumah, mereka mendapat hadiah perkawinan dari seratus ribu pramuka.
Beberapa tahun kemudian serentetan peristiwa terjadi, baik bagi dunia maupun bagi keluarga Baden Powel. Perang dunia 1 (1914 – 1918) membawa perubahan besar bagi kepramukaan. rumah Robert juga hancur karena perang tersebut.
Meski dalam masa sulit, pramuka masih sempat bertambah dari 152.133 ditahun 1914 menjadi 193.731 ditahun 1918. Dan peristiwa duka pun datang pada tahun 1913, Ibu Robert Baden-Powell meninggal dunia.
Tapi datang berita baik, lahirlah Peter, anak pertamanya yang lahir pada tanggal 30 oktober 1913, Heather pada 1 juni 1915, dan Betty pada 16 april 1917.
Pada tahun 1918, Robert menerbitkan buku girl guiding. Dan Olave Baden Powel diangkat menjadi ketua pramuka putri sedunia.
29 januari 1919 Robert dan keluarganya menempati rumah baru mereka di desa Hampsire, Bentley.
Setelah perang dunia selesai dibuatlah pramuka dengan usia lebih tua yaitu umur 14 sampai 18 tahun yang dinamai senior scout.
Kepemimpinan Agnes Baden Powel mulai dirasakan ketinggalan zaman, dan Baden Powel pun mulai sadar akan pentingnya reorganisasi.
Tahun 1918 terbitlah buku baden powell yang lebih mengarah pada gerakan modern bagi remaja putri, yang berjudul Girl Guiding.
Gerakan pramuka semakin mendunia maka Robert mendapatkan sebuah ide yang maksudnya mempertemukan para pramuka seluruh dunia. dan akhirnya kegiatan tersebut diadakan. Disebut namanya “jambore”. Akhir juli 1920 kota london di banjiri 8000 utusan dari 21 negara dan 12 negara persemakmuran inggris. Disana ia mengikrarkan pidatonya yang intinya untuk perubahan perdamaian di seluruh dunia. Jambore ketiga pada tahun 1929 bertepatan hari jadi 21 gerakan pramuka. Regu pramuka irlandia pun menghadiahkan sebuah tongkat yang bagus dan mobil pertamanya rolls royce karavan, potret dirinya dan selembar cek dari organisasi pramuka.
Tak lama setelah jambore ketiga selesai, Ia mendapat gelar kebangsawanan “Lord Baden Powell of gilwell”.
Pada usianya ke72. sembilan tahun ia berkunjung ke berbagai negara Asia, Swiss, India, Afrika dan berjambore di Hongaria dan Belanda.
Tak hanya berkiprah di gerakan pramuka ia pun menjadi duta besar perdamaian, misalnya mendorong terwujudnya kerukunan antar rakyat kanada yang beragama kristen protestan dan yang beragama kristen katolik. Menjebatani hambatan rasial di India. Dan rasialisme di Afrika selatan.
Di Jerman pada zaman Adolf Hitler, pada tahun 1933 gerakan pramuka dihentikan dan diganti dengan gerakan pemuda Hitler, demikian pula di Italia tahun 1927 Musolini menganti pramuka dengan organisasi kepanduan yang bernama Balilia dan Avanguardisti. Tetapi ketua pramuka sedunia ini pantang mundur, kelak setelah perang dunia berakhir dia memastikan gerakan pramuka di jerman dan italia akan aktif kembali.
Pada awal tahu 1934 ia jatuh sakit parah dan nyaris meninggal dunia namun dua tahun kemudian ia mampu bangkit berdiri dan berkunjung ke Australia, kanada, Afrika selatan, dan India.
Pada tahun 1937. Jambore kelima diadakan di negara Belanda yang dihadiri oleh 30.000 peserta dari tiga puluh negara dia berpidato yang intinya adalah perpisahan bagi dirinya karena usianya yang sudah mencapai 80 tahun. Pada tahun itu juga ia menerima penghargaan “carnagie prize” untuk perjuangan perdamaian.
Pada 30 oktober 1937 ia mendapat banyak hadiah kerena perayaan hari pernikahannya ke 25 dan dari selembar ada sebuah cek dari pramuka putra putri dan siaga dan dari cek itu ia membeli rumah di Nyeri, dekat gunung kenya Afrika. Rumah itu ia diberi nama paxtoo atau paxtuu dalam bahasa swahili yaitu “lengkap”.
Pada awal tahun 1914 ia tampak lemah dan akhirnya pada 8 januari 1941 di usianya yang ke 84 ia pun meninggal dunia. Seluruh pramuka berduka dan sebelum kematiannya ia menulis sebuah lembaran kertas terakhirnnya, yang pada waktu itu setelah kematiannya dan penghormatan terakhirnya, Pesan terakhir tersebut dibacakan didepan umum oleh istrinya sendiri.
Dari Biografi Bapak Baden-Powell lah kita mengerti. Selama bertahun tahun sifat idealis dan coba coba Baden Powell telah mengubah kehidupan jutaan pemuda di seluruh dunia.